
Laweyan…. kampoeng di tengah kota solo (surakarta) yang sekarang terkenal dengan Kampoeng batik Laweyan. Banyak peninggalan sejarah yang ada di Laweyan. Dulunya meruapakan bagian dari Kerajaan Pajang.
Pendapatnya pak Priyatmono yang mengutip Mlayadipuro ’84 bahwa Kampoeng Laweyan erat kaitannya dengan makan Kyai Ageng Anis dan Kerajaan Pajang semasa dibawahnya kekuasaan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) tahun 1546.
Kyai Ageng Anis adalah keturunan dari Kyai Ageng Selo (keturunan Brawijaya V) dan merupakan patih dari kerajaan Pajang. Kyai Ageng Anis terkenal dengan sebutan Kyai Laweyan. Kyai Ageng Anis menurunkan panembahan Senopati atau cikal bakal raja-raja Mataram.
Pada masa itu pula di Laweyan terdapat pasar Lawe atau bahan dasar sandang yang ramai dan terbesar. Bahan-bahannya di dapatkan dari sekitar kerajaan Pajang, Pedan, Gawok, dan Juwiring yang terkenal sebagai penghasil kapas.
Pasar Laweyan dihubungkan dengan Bandar yang besar, yaitu Bandar Nusupan, di Sungai Kabanaran. Letaknya di tepi sungai Bengawan Solo dan Kerajaan Pajang.

Ternyata aku lahir dan besar di bekas kerajaan Pajang. Salah satu kerjaan islam tua yang ada di kota Surakarta. Juga merupakan basis gerakan PSII dan gerakan kepemuadaan islam PII.